Candra Malik


DUNIA nyata saja fana, apalagi dunia maya. Tapi, di situlah kini kita menghabiskan umur. Menggunakan sebagian waktu kita, bahkan sebagian besar di antaranya, untuk bergaul dengan akun-akun media sosial.

Ada yang kita kenal sejak lama, semacam memindah lingkungan pergaulan dari tatap muka jadi tatap layar. Ada juga yang baru kita kenal, semacam mencipta ruang dan waktu baru untuk berinteraksi.

Ada pula yang tidak kita kenal sama sekali, tapi tetap kita ikuti.

Media sosial berkembang sebagaimana ia dinamakan. Dalam banyak hal, media sosial bahkan melampaui media massa, jika bukan bahkan mengambil alih peran-perannya. Ia berhasil merebut hati nurani dan akal sehat penggunanya untuk menikmati post-truth, istilah mutakhir untuk klaim pendapat atau pernyataan yang konon pasca kebenaran. Tidak mau didebat, tapi terus saling debat. Tidak mau dibantah, tapi tidak berhenti saling mendebat. Kebenaran dijadikan milik.

Twitter, misalnya. Dulu lucu. Menyenangkan. Kini, terutama sejak dijadikan alat berpolitik, dengan bungkus dalih apa pun, bergerak dari lucu menjadi satire, lantas jadi sarkas, kemudian menjadi arena olok-olok yang tak lagi jelas mana yang benar dan mana yang salah.

Tentu, tidak ada yang mau dianggap salah. Karena itulah, mendakwahkan hal-hal yang sebetulnya benar pun bisa jadi malah disertai ujaran merendahkan. Tak terkecuali, itu pun dilakukan oleh akun berpendidikan.

Masyarakat di dunia maya memang sengaja saya sebut akun. Sebab, memang begitulah adanya. Ada yang dikelola langsung oleh si pemilik, ada yang dimainkan oleh admin, ada pula yang digerakkan oleh kepentingan –kepentingan itulah yang memotori bot atau jari jemari berbayar untuk membuat dan mengolah isu sosial. Bahkan, sering kali kita jumpai isu pribadi pun bisa bermetafora menjadi isu sosial. Terlebih, kita suka lalai bahwa media sosial bukan media personal.

Ya, kita suka membawa hal-hal yang bersifat personal, domestik, privat, ke ranah sosial. Mungkin kita beranggapan bahwa media itu bisa dijadikan ajang pelepasan dari berbagai tekanan hidup. Kita lupa bahwa kepala punya isinya masing-masing. Demikian pula jemari, punya pembenarannya sendiri-sendiri untuk mengetik atau mengunggah. Ironisnya, kita lalu menganggap privasi kita dicampuri orang lain. Padahal, kita sendiri yang mulai. Media sosial menjadi karut-marut oleh kubu.

Citizen journalism, isme jurnalistik berbasis warga, mendorong media sosial bergerak lebih cepat ke arah klaim pasca kebenaran. Warga, yang tidak benar-benar memiliki dasar keilmuan kewartawanan, berhasrat amat kuat ikut menyebarkan info secepat-cepatnya.

Tak bisa dimungkiri, setiap hal disertai framing, pembingkaian perspektif. Padahal, pandangan atas suatu hal perlu didasari atas cara pandang, sudut pandang, jarak pandang, dan batas pandang.

Polisi moral muncul di mana-mana di media sosial, di seantero kita. Bahkan, disadari atau tidak, kita kadang-kadang juga jadi satu di antaranya. Copy paste atau salin tempel dan forward message atau meneruskan pesan menjadikan sesuatu hal yang belum teruji kesahihannya menyebar secara berantai dan ”jangan berhenti di kamu”. Meski dibubuhi tuturan meminta tabayun atas informasi yang kita sebarkan itu, tidak ada bantahan bahwa kita telah ikut menyebarkannya.

Itulah silang sengkarut yang telah menjadi lingkaran setan dalam kehidupan manusia modern, yang susah benar lepas dari jerat gawai dan segala hal di dalamnya. Sembako atau sembilan bahan pokok manusia hari ini sepertinya telah beralih. Meliputi gawai atau telepon pintar, pulsa, kuota, sinyal, aplikasi media sosial, akun media sosial, pengikut, unggahan status, dan responsnya –like and comment, reply, retweet, dan sebagainya.

Hoaks atau dusta, propaganda, agitasi, ujaran kebencian, dan permusuhan makin merajalela. Dalam banyak hal, saya menjadi korban. Anda juga. Kita. Namun, disadari atau tidak, diakui atau tidak, saya pun telah atau pernah menjadi pelakunya. Saya tak akan menyebut Anda juga, apalagi kita. Tak akan menjernihkan keadaan jika tidak mau mawas diri. Meski telah meminta maaf dan berikrar takkan mengulangi, belum tentu dimaafkan, pun belum tentu tak begitu lagi.

Ada idiom ”mahabenar netizen dengan segala kicauannya”. Namun, tak seharusnya kita berhenti belajar untuk terus-menerus memahami betapa dunia nyata saja fana, apalagi dunia maya. Sering terngiang di benak saya betapa nikmat hidup seorang Nasirun, pelukis hebat yang hidup tanpa memegang telepon pintar, apalagi gawai. Berkirim pesan pendek pun tidak. Dia setia dengan perjumpaan antara manusia dan manusia. Tatap muka, bukan tatap layar. (*)

(Penulis adalah budayawan)

You Might Also Like