Yogyantoro


JIWA kewirausahaan (entrepreneurship) seirama dan inheren dengan jiwa Islam yang notabene agama kaum pedagang. Islam dan perdagangan ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana Nabi Muhammad SAW menjadi seorang praktisi ekonomi termasyur yang merintis bisnis dan berdagang dari Arab hingga Syam sejak usia muda. Rasulullah bersama istri dan sebagian besar sahabatnya adalah pedagang dan wirausahawan mancanegara yang handal.

Islam betul-betul tidak hanya sekadar berbicara tentang kerja keras, kemandirian dan kewirausahaan tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan yang riil. Orang Hulu Sungai di Kalimantan menjadi refleksi nyata tentang bakat dagang pemeluk Islam sebagaimana halnya dengan masyarakat di wilayah Pantura yang terkenal dengan jargon jigang (ngaji dan dagang).

Hal yang perlu menjadi perhatian serius dalam hal ini adalah Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan keterbatasan suplai bahan baku yang memenuhi kriteria halal tentu diperlukan sosialisasi yang masif dan inklusif bagi para pedagang, wirausahawan dan masyarakat. Nabi Muhammad mengatakan bahwa makanan yang dimakan seseorang akan berpengaruh pada diterima dan tidaknya amal saleh seseorang dan siapa saja hamba yang dalam dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka neraka lebih pantas baginya.  Allah mengutus beliau untuk menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk dan jelek bagi manusia. Barangkali karena itulah maka tren permintaan terhadap produk halal semakin tinggi dan fenomena kebutuhan industri halal menjadi menjadi meningkat.

Membangun usaha adalah tentang bagaimana cara membuat sebuah sistem. Penerapan sistem mutu, standarisasi dan kehalalan produk sangat berguna untuk meningkatkan daya saing produk dalam kancah Masyarakat Ekonomi ASEAN saat ini.  Produk-produk yang dipasarkan, baik di pasar domestik maupun yang menembus pasar luar negeri wajib bersertifikasi halal. Sejatinya, label halallah yang mampu menjadi diferensiasi yang memperkuat daya saing produk di Indonesia.  Kuliner halal, fashion halal, hotel halal dan serba-serbi dengan label halal kini tengah menjadi trend dan naik daun di kawasan ASEAN.

Ini juga merupakan peluang bagi generasi salaf dan milenial untuk menciptakan lapangan kerja atau terjun di dunia kewirausahaan di tengah ketidakseimbangan lapangan kerja dan jumlah tenaga kerja sekarang ini. Bermodal kualitas halal untuk memperkuat keunggulan kompetitif maupun komparatif bisa menjadi modal untuk membangun kemitraan dan kepercayaan (trust). Bagi para wirausaha muda perlu disadari bahwa dalam membangun usaha modal utamanya adalah kepercayaan.

Mitos bahwa menjadi wirausaha harus memiliki modal materi yang besar akan menjadi “mental blocks”. Lebih-lebih memulai usaha yang bergerak di bidang jasa tentu tidak terlalu membutuhkan modal materi. Persoalan finansial dan materi justru  akan rentan terjadi jika kemampuan analisa, kondisi mental dalam menghadapi resiko, kejujuran dan keprofesionalan seorang wirausaha lemah. Seorang ilmuwan bernama Samuel Philips Huntington mengatakan bahwa dalam hukum insani: “yang mampu bertahan adalah mereka yang berkualitas dan bukan yang kuat”.

Muara dari banyak kesalahan dalam beriwirausaha dapat pula ditangkal dengan pendekatan yang lebih syar’i. Contonya dalam hal kepemimpinan, dengan pondasi agama yang baik seyogyanya menjadi tiang utama dalam model proses kewirausahaan selain proses manajerial. Membangun literasi halal di masyarakat bersinergi dengan para ulama yang saat ini banyak menjadi rujukan masyarakat. Hasil survey yang diadakan oleh Pew Research Center pada bulan Oktober 2017 menunjukkan bahwa ulama menempati urutan pertama yang paling dipercaya oleh orang Indonesia dengan persentase 93 persen. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap ulama, tentu termasuk fatwa-fatwa mereka.

Pada tahun 2017,  Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama telah meresmikan sebuah badan penjamin produk halal bagi masyarakat bernama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) sebagai pelaksanaan amanat UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. BPJPH mengemban tugas dalam mengeluarkan sertifikasi halal dan melakukan pengawasan. Pengusaha makanan dan minuman misalnya, perlu melabeli produk mereka dengan serifikasi halal dalam mengembangkan industri halal di tanah air.  Faktanya di lapangan, masih banyak perusahaan yang belum mengurus sertifikasi halal ke Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia  (LPPOM MUI).

Wirausaha muda perlu menyadari bahwa produk halal dapat menjadi motor penggerak pasar, membangun jaringan pasar dan merangsang pasokan bahan baku halal. Riset dan pengembangan produk halal lebih lanjut akan mendorong sejumlah produsen pangan maupun kosmetika untuk menghasilkan produk halal yang memiliki permintaan tinggi di pasar dalam negeri maupun luar negeri.  Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam (SDA) yang membutuhkan tangan-tangan dingin dan otak cemerlang para wirausaha muda untuk mengolahnya menjadi produk-produk  halal yang diminati masyarakat. Produk halal adalah produk-produk yang dijalankan dalam sistem usaha yang syar’i, jauh dari riba dan menggunakan seluruh sumber daya yang halal menurut ketentuan syariat Islam.

Wirausaha muda perlu berpegang teguh pada prinsip bahwa, keuntungan sedikit tapi halal itu lebih baik daripada  keuntungan banyak tapi haram. Tulisan ini penulis tutup dengan sebuah kisah dari Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan seorang laki-laki dengan penampilan yang berwarna kusut seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa:  “Yaa…Rabb, yaa…Rabb.” Sedangkan makanan yang dia makan adalah makanan haram, minuman yang dia minum  adalah minuman haram, pakaian yang dia kenakan adalah pakaian yang haram dan dia telah kenyang dengan hal-hal yang haram. Maka bagaimana mungkin orang tersebut akan dikabulkan doa dan permohonannya?

Kewirausahaan dalam masyarakat adalah salah satu pilar dalam konteks Good Governance yang menopang jalannya proses pembangunan oleh karena itu perlu kepedulian tinggi pemerintah dalam ikut serta memberdayakan dan mendorong lahirnya para wirausaha muda. Wirausahawan muda yang sadar halal berjibaku untuk Indonesia Sadar Halal 2019. Ganbate!

(Penulis adalah Pendidik dan Peminat Masalah Sosial-Keagamaan)

Loading...

You Might Also Like