Tim satu dan dua (peraih medali emas) serta tim tiga foto bersama usai mengikuti perlombaan ajang WICE di Malaysia, 2-6 Oktober. (DOK PRIBADI UNTUK KALTENG POS)


PALANGKA RAYA- Banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkan beasiswa, khususnya untuk studi ke luar negeri. Tiga anak muda Kalteng, secara cuma-cuma mendapatkannya. Prestasi yang dicetak mereka membuat Kampus SEGi College di Subang Jaya, Malaysia memberikan beasiswa 100 persen. Siapakah mereka yang beruntung itu?

Datang ke Malaysia mengikuti lomba dalam ajang World Invention Kompetition And Exhibition (WICE) pada 2-6 Okotber 2019 lalu. Tiga siswa SMAN 2 (Smada) Palangka Raya malah mendapatkan beasiswa. Mereka adalah Juanita Grania Gabriella, Johevin Blesstowi, dan Ricky Maheswara Harianto.

Ketiganya berhasil meraih medali emas dalam perlombaan di bidang lingkungan. Tiga generasi muda ini berhasil menciptakan pembasmi hama tanaman cabai dengan menggunakan buah bintaro. Inovasi ini mendapat sambutan luar biasa dari pihak penyelenggara, Kampus SEGi College, Malaysia.

Produk pembasmi hama ini diciptakan mereka dengan memanfaatkan buah dan daun bintaro yang selama ini dianggap berbahaya bagi manusia karena racunnya. Justru karena beracun, mendorong anak-anak Smada ini ingin memanfaatkan sebagai membasmi hama.

“Selama ini pohon bintaro yang digunakan untuk penghijauan, dikenal sebagai pohon beracun. Kami pun berpikir bahwa pohon beracun ini akan sangat bermanfaat bila diolah menjadi produk pembasmi hama,” kata Juanita Grania Gabriella.

Perempuan yang akrab disapa Gaby ini menyebut, produk yang diciptakan terdiri atas dua macam, yakni serbuk dan spray. Cara membuatnya pun mudah dan bisa dipraktikkan oleh para petani yang ingin membasmi hama pada cabai. “Kami sudah melakukan percobaan pada cabai milik warga. Hasilnya memang bisa mencegah dan membasmi hama,” katanya saat dibincangi di Smada, belum lama ini.

Buah dan daun bintaro dicuci bersih lalu dikeringkan. Selanjutnya ditumbuk hingga halus. Pembasmi hama dengan bubuk ini bisa digunakan untuk pencegahan.

“Jadi pengaplikasiannya yakni dengan menaburkan bubuk bintaro di sekitar tumbuhan cabai. Dengan begitu hama tidak akan datang,” katanya.

Sementara itu, untuk pembasmi dalam bentuk spray, hanya perlu menambahkan air pada bubuk bintaro. Saring bubuk yang tercampur air itu dan ambil ekstraknya sebagai spray.

“Jenis spray ini digunakan sebagai pembasmi, bukan untuk pencegahan,” jelas perempuan kelahiran Kota Palangka Raya, 20 Juni 2003 ini.

Khusus spray, lanjutnya, proses mematikan hama pada tumbuhan cabai kurang lebih 30 menit.

Sementara itu, Ricky Maheswara Harianto, salah satu anggota tim tersebut mengaku tidak percaya bahwa ia dan dua rekannya bisa raih medali emas, sekaligus mendapat beasiswa 100 persen dari SEGi College.

“Dari sekian banyak peserta, tim kami yang terpilih mendapat beasiswa 100 persen,” ucapnya senang.

Padahal, lanjut pria yang kerap dipanggil Ricky ini, siswa dari daerah lain yang mendapatkan prestasi juga mendapat beasiswa, tapi hanya 75 persen saja. “Tidak penuh, sedangkan tim kami mendapatkan beasiswa 100 persen secara cuma-cuma,” tegasnya lagi.

Tidak hanya tim ini saja yang meraih medali emas. Tim lainnya di bidang lingkungan juga berhasil menyabet medali emas. Produk yang dilombakan dari bahan yang sama, yakni buah bintaro. Namun, produk yang diciptakan oleh Christian Suan Fernando Tarigan dan Rizka Annisa Putri tersebut digunakan untuk membasmi tikus.

“Perbedaannya, jika hama bisa dimatikan secara langsung, tapi untuk tikus tidak. Ia muncul seketika, terkadang tanpa diketahui oleh manusia,” kisah Christian.

Untuk itu, lanjutnya, perlu menipu si tikus agar terperangkap dalam jebakanyang dipasang. Cara yang mereka gunakan pun cukup unik. Membuat permen yang pada umumnya disukai tikus. Akan tetapi bukan sembarang permen. Di dalam permen tersebut mengandung buah bintaro yang mematikan.

“Jadi kami menutupi racun (buah bintaro) dengan perasa manis,” sebutnya.

Bagaimana cara membuatnya? Awalnya buah bintaro dipotong lalu dimasak. Kemudian balut air bintaro bersama tepung, gula, pewarna makanan, dan perasa strawberry. Selanjutnya bentuk balutan tersebut menjadi dadu bak permen. Menggairahkan dan memancing si tikus untuk memakannya.

“Jika diukur berdasarkan penelitian kami, tiga milliliter (mL) sari buah bintaro dapat mematikan tikus dalam jangka waktu 30-300 menit,” tegas remaja 16 tahun ini.

Tentu, keberhasilan anak-anak muda Kalteng ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kepala Smada Mi’razulhaidi. Ia berharap agar lebih banyak lagi medali yang bisa didapatkan anak anak Kalteng, khususnya siswa-siswi Smada.

“Kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemprov Kalteng, khususnya Dinas Pendidikan (Disdik) Kalteng, dalam hal peningkatkan kompetensi guru dan siswa,” katanya.

Dengan demikian, anak-anak di Smada diberikan kesempatan mengikuti berbagai ajang perlombaan di luar negeri dan telah membuktikan bahwa mereka (anak-anak, red) memiliki keunggulan. Mampu berdaya saing dengan anak-anak dari daerah baik di kancah nasional maupun internasional.

Apresiasi juga datang dari Plt Kadisdik Kalteng Suyuti Syamsul. Bahwasannya prestasi anak-anak Kalteng tak hanya pada level nasional, tapi juga merambah hingga kancah internasional. “Saya berharap tidak hanya Smada yang demikian, tapi anak-anak di sekolah-sekolah lain se-Kalteng dapat berkembang dan maju,” pungkasnya. (abw/ce/ram)

Loading...

You Might Also Like