Yogyantoro


BUDAYA hanya bisa tumbuh karena memiliki ruh yang bernama kearifan lokal. Kearifan lokal yang berkenaan dengan nilai-nilai keberagaman budaya atau multikulturalisme dalam masyarakat perlu direvitalisasi untuk menangkal disintegrasi bangsa.

Dalam tata kehidupan sosial masyarakat kita yang multikultural, sikap sosial yang menyadari adanya perbedaan dalam kebersamaan atau sebaliknya kebersamaan di tengah perbedaan dijaga oleh nilai dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu Bhinneka Tunggal Ika.  Begitu pula, batik warisan budaya leluhur dapat menampung segala perbedaan menjadi satu kesatuan yang disimbolkan di atas sehelai kain.

Energi budaya sesungguhnya dapat memperkuat ketahanan nasional. Kehadiran budaya sangat berpotensi menggulingkan eksistensi dari hoaks dan disrupsi informasi. Hal ini hanya dapat dicapai dengan menciptakan harmoni dan solidaritas yang berlandaskan kebersamaan dan persaudaraan demi terciptanya keamanan dan ketenteraman. Hoaks dan disrupsi informasi yang terus berkecamuk menimbulkan ketakutan, keresahan dan mengganggu ketenteraman masyarakat. Tensi sosial ini dapat berujung pada porak-porandanya stabilitas keamanan dan ketertiban umum.

Setiap suku bangsa memiliki budaya yang unik dan pedoman hidup menurut kepercayaan mereka masing-masing demi mewujudkan kesejahteraan dalam masyarakatnya. Cita-cita bersama ini dapat diraih dengan memperteguh kebhinekaan dan restorasi sosial sebagaimana tertuang dalam Nawacita Jokowi yang ke Sembilan. Dengan adanya fakta keragaman yang tergambar dalam bentuk tradisi dan budaya di Indonesia maka makna toleransi harus dikembalikan kepada fungsi tradisi dan budaya yang didalamnya bersemayam kearifan lokal sebagai jiwanya.

Pendidikan Toleransi di Sekolah

Toleransi menurut Bertelmann Group for Policy Research (2000), yaitu: “Tolerance as cardinal virtue or mental attitude, but also as the scope for various types of behavior, orientational value or cultural work”. Ini artinya bahwa tidak mungkin ada toleransi jiku virtue atau mental attitude tidak diperkenalkan secara baik melalui sebuah proses pembudayaan atau pendidikan. Mind-set pendidikan kita perlu menanamkan keyakinan bahwa kemajemukan jangan sampai menjadi penyebab pertentangan tetapi harus dipersandingkan dengan harmonis karena kemajemukan adalah perwujudan dari nilai dan gagasan yang dapat saling menguatkan dan meningkatkan wawasan.

Lembaga pendidikan seperti keluarga, sekolah dan masyarakat diharapkan memberi apresiasi yang tinggi terhadap kemajemukan. Dus, persamaan pandangan hidup yang berhubungan dengan nilai kebajikan (virtue) dan  kebijaksanaan (wisdom) dapat diperoleh dari adanya kemajemukan atau keberagaman.

Manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) yang digunakan banyak negara memiliki fungsi dan peran yang sama pentingnya dengan program bina damai di lingkungan pendidikan seperti sekolah. MKBS memperkenalkan cara mengelola kemajemukan, keterampilan resolusi konflik, negosiasi, mediasi sejawat dan  manajemen sekolah terhadap isu-isu kekerasan di lingkungan sekolah dan upaya penangannya secara terpadu.

Apabila praktik toleransi dapat diterapkan di lingkungan sekolah maka guru dan siswa akan sama-sama menghindari tindak kekerasan dan kebiasaan berlaku kasar akibat provokasi atau ujaran kebencian pada saat mengajar maupun di luar jam pelajaran.  Hal ini akan meredam berkembangnya hoaks akibat adanya perbedaan kebudayaan, aspirasi dan pemikiran.

Kurikulum pendidikan kita mendorong penubuhan pola berpikir yang kritis, analitis, evaluatif dan kreatif atau pola berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skill (HOTs). Siswa dilatih untuk mampu berpikir HOTs  untuk bisa menggali makna dan bukan pemikiran yang cenderung dangkal atau permukaan. Demikian juga guru, dengan pendekatan andragogis yang terbuka dan menyenangkan didorong untuk berpikir secara lebih dalam (deep thinking). Orang yang radikal dalam arti negatif biasanya cenderung berpikir dangkal atau permukaan (surface thinking) sehingga yang dilihat hanyalah fakta-fakta.

Kearifan lokal selayaknya dimasukkan dalam skema pedagogis para guru secara kritis, dalam (deep thinking) dan berkesinambungan. Pelajaran muatan lokal yang hanya sebatas bahasa daerah dan tari daerah yang diajarkan secara apa adanya perlu ditelaah ulang. Guru dapat meninggalkan banyak rekam jejak keteladanan (hidden curriculum) dan kebijaksanaan hidup sebagai metode penanaman kearifan lokal pada siswa.

Kearifan lokal tidak melulu bersifat tradisional. Pengetahuan tradisional muncul dari orang-orang zaman dulu, dongeng-dongeng klasik, cerita rakyat atau legenda, ritual atau petatah-petitih para wali, babad, tembang, lontar, hikayat, kewaskitaan dalam berbagai karya sastra kuno, serat, jangka, suluk dan juga aturan atau hukum setempat. Kearifan masa kini atau kekinian yang melekat pada karakter seseorang yang bersifat arif dan bijak dapat dikategorikan sebagai kearifan lokal pula. Sportivitas atlet Indonesia  pada Asian Games 2018 dan momen Jokowi-Prabowo berpelukan di final cabang olah raga pencak silat yang menunjukkan kerukunan dan perdamaian adalah manifestasi kearifan masa kini. 

Selain mengembangkan pelajaran muatan lokal di atas nilai-nilai kearifan lokal yang mapan, pelajaran agama dapat pula disampaikan secara utuh (kafah) dengan tetap melestarikan kearifan lokal di dalamnya. Untuk menciptakan harmonisasi yang baik antara ajaran agama dan kearifan lokal dibutuhkan perjuangan dan cukup waktu. Orang seperti A.N Wilson dalam Againts Religion: Why We Should Try to Live Without It? (1992) dengan kata-katanya yang menghujam, Wilson bahkan berkata: “ Jika agama tidak bisa mendidik orang untuk mencapai tujuan-tujuan kedamaian, cinta kasih, lantas apa arti dan tujuan kehadiran agama bagi manusia?” Toleransi dalam agama mengandung makna saling hormat-menghormati sesama umat beragama atau aliran kepercayaan (kejawen, kaharingan, sunda wiwitan dan lain-lain) dalam masyarakat yang inklusif dan terbuka.

Nenek moyang nusantara dalam penyebaran agama sangat inklusif dan terbuka, menjunjung tinggi toleransi  untuk menerima dan diterima oleh nilai-nilai lokal. Mereka mengajarkan kepada kita untuk menjaga ketenteraman, kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama yang dibawa para ulama dan Wali Songo dapat diterima masyarakat tanpa adanya paksaan atau tindak kekerasan. Sinkretisme agama Islam dan Hindu berlangsung damai.

Kerukunan umat beragama adalah pilar bagi kerukunan nasioanal. Ini akan menjadi tameng baja berkembangnya disrupsi informasi, provokasi, hoaks dan ujaran kebencian yang berujung pada perpecahan bangsa. Nilai kearifan lokal sendiri dapat menjadi perekat sosial dan menjadi acuan dalam mewujudkan kerukunan umat beragama. Kasus pelarangan warga beribadah di Gereja Yasmin Bogor dan di tempat lain seperti di Tolikara, Papua adalah bukti bahwa kearifan lokal masih menjadi aksesoris budaya yang tanpa makna. Agama adalah obyek yang multitafsir. Namun dengan memelihara dan memajukan toleransi sebagai bentuk kearifan lokal, mozaik indah Indonesia akan semakin berpendar. Mari membumikan kearifan lokal secara “radikal” untuk membendung hoaks dan disrupsi informasi ***

(Penulis adalah pendidik dan pemerhati pendidikan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah)

Loading...

You Might Also Like