Abdul Munir Mulkhan


BERDASAR penanggalan Miladiyah atau Masehi, usia Muhammadiyah sudah lebih dari seabad, tepatnya 107 tahun pada 18 November 2019. Yang dipelopori Kiai Ahmad Dahlan pada lebih dari seratus tahun lalu (1912) itu kini sudah menjadi tradisi sosio-ritual pemeluk Islam negeri ini.

Aksi-aksi kemanusiaan berlandasan cinta kasih, yang membuat dr Soetomo kepincut dan menjadi pengikut Muhammadiyah, sudah biasa dilakukan berbagai komunitas muslim negeri ini. Pembagian daging kurban kepada fakir miskin serta zakat fitrah dan zakat maal bukan hanya tradisi gerakan ini.

Apakah tujuan pemberantasan kemiskinan terpenuhi? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab ketika daging seberat 1–2 kg itu habis disate atau dijual untuk membeli beras. Nilai daging hewan kurban secara nasional yang bisa Rp 20 triliun itu bisa lebih memberdayakan kaum duafa jika dikelola secara lebih produktif. Tidak hanya dibagikan untuk habis dikunyah hanya dalam beberapa menit.

Masihkah jiwa ijtihad supercerdas dan disruptif dalam diri elite gerakan modernis terkemuka di dunia itu berani menawarkan tata kelola baru bekerja sama dengan pengusaha restoran penampung daging kurban? Sementara aktivis gerakan ini ’’merasa’’ terancam dan ’’disaingi’’ ketika warga negeri ini meniru apa yang dilakukan Muhammadiyah, akibat aktivis gerakan ini terperangkap pada bentuk AUM, bukan pada isi amal usaha tersebut.

Apa yang dipelopori Kiai Dahlan kini sudah berkembang menjadi tradisi sosio-ritual pemeluk Islam negeri ini (yang antara lain membuat dr Soetomo dan Presiden Pertama Ir Soekarno kepincut). Sebut saja sistem pendidikan; tata kelola kurban, haji, masjid, dan kedermawanan sosial; musala di tempat umum; santunan kepada kaum duafa; hingga taklim di ruang publik (semula dakwah dan kegiatan orang menuntut ilmu terbatas di pesantren atau masjid).

Di tiap daerah, Muhammadiyah memiliki sekolah favorit di semua tingkat, mulai PAUD hingga perguruan tinggi, yang di mata publik dipandang unggul. Pada saat yang sama, ketika sekolah modern sudah menjadi kebutuhan publik, muncul sekolah model ’’baru’’ yang terlihat asal beda dengan sekolah Muhammadiyah. Sekolah ’’baru’’ itu umumnya dikelola aktivis gerakan atau orang yang mempunyai hubungan kultural dengan gerakan Muhammadiyah. Karena ’’baru’’, kemudian tampak lebih menarik. Sementara praktik AUM cenderung statis tanpa perubahan yang menjanjikan harapan.

Pada era milenial disruptif nanti berkembang sekolah tanpa gedung dengan beberapa guru atau dosen. Banyak sekolah milik gerakan ini yang akan gulung tikar seperti dulu dialami saat berkembang SD inpres, SMP, dan SMA negeri yang bertebaran di berbagai kawasan. Bersama kosongnya gedung tanpa murid, sejumlah guru atau dosen kehilangan murid, harus dihadapi Muhammadiyah.

Budaya Dakwah Luar Ruang

Dakwah sebenarnya merupakan kegiatan edukasi luar ruang, sedangkan praktik pendidikan lebih bekerja dalam ruang. Secara keseluruhan merupakan kegiatan budaya, yaitu suatu kegiatan yang berfokus pada pengembangan mental atau cara pandang dan sikap hidup. Demikian pula halnya dengan Muhammadiyah.

Muhammadiyah merupakan gerakan budaya yang sering disalahpahami, bahkan oleh aktivisnya sendiri. Seluruh kegiatan gerakan ini merupakan inovasi kreatif yang sulit dicari padanannya pada masa lalu (lihat prasaran gerakan ini pada Kongres Islam Cirebon 1921 dalam laporan tahun ke-9 tahun 1922).

Pendidikan atau dakwah adalah proses sosial-budaya untuk mengembangkan atau mengubah tata pikir dan tata kelola kehidupan secara bertahap. Tahapan-tahapan itu bagai spiral yang diwadahi atau dilembagakan dalam regulasi melalui syariah (fiqh, dalam gerakan ini diperankan oleh tarjih). Salah satu orientasi Muhammadiyah yang tidak banyak disadari aktivisnya adalah perubahan tata pikir manusia (umat) dan tata kelola kehidupan berbasis ajaran Islam.

Kini secara kultural pemeluk Islam negeri ini adalah pengikut Muhammadiyah. Lihat saja model dakwah luar ruang (taklim), musala di ruang publik (bandara, stasiun, terminal, pasar), minat pendidikan, sikap sadar kesehatan, serta tata kelola sosio-ritual seperti zakat, infak, sedekah, ibadah kurban, salat tarwih, dan haji.

Sayang, saat ini masih banyak aktivis gerakan Muhammadiyah yang terperangkap pada aksi memberantas takhayul, bidah, dan churafat (TBC). Sementara pada saat yang sama, TBC sudah menjadi tradisi untuk berbagai fungsi sosial-ekonomi-budaya seperti wisata religi, media edukasi, bahkan komunikasi politik dan ekonomi.

Pembelajar Alternatif ”Mletik”

Perlu pembelajaran model baru yang lebih bermutu, produktif, dan spiritual yang memicu anak-anak muda agar ’’mletik’’ (loncatan kuantum) daya kreatifnya. Suatu model milenialis, memanfaatkan model boarding school (BS) atau madrasah boarding school (MBS) sebagai media percepatan atau akselerasi. Misalnya, SD cukup 4 tahun, SMP 2 tahun, SMA/SMK 2 tahun.

Melalui apa yang disebut MBS Prambanan, kegiatan amal baksi sosial (ABS) bisa dikembangkan dengan pelatihan kecakapan hidup mandiri, baik di bidang sosial-ekonomi maupun bidang ubudiah, dengan memanfaatkan kemampuan pelatihan kepanduan Hizbul Wathan.

Sintesis pembelajaran boarding school atau madrasah boarding school, homeschooling, sekolah alam, kuttab, mengikuti jenjang KKNI bagi pembelajaran lebih produktif, efektif, dan efisien. Sistematisasi majelis taklim distandardisasi seperti kejar paket hingga model universitas terbuka.

Basis epistemologinya ialah kecerdasan spiritual (makrifat) menemukan clue kekuatan inti pembelajar berupa god spot sehingga seperti hikmah Jawa dalam melukiskan wong linuwih “jalmo limpat seprapat prasasat tamat”. Artinya, orang arif diberi 25 persen sama dengan 100 persen sehingga membuat seseorang “mletik”.

Kesuksesan pembelajaran bukan ditentukan kuantitas jam, fasilitas, dan bahan ajar lebih. Melainkan menghasilkan kualitas prima melalui jam, fasilitas, dan bahan ajar terbatas serta input siswa kualitas rendah.

Dalam milad ke-107, sudah waktunya Muhammadiyah membangkitkan kembali ijtihad supercerdas (kecerdasan spiritual) yang ’’disruptif’’, mengembangkan kesalehan lebih humanis berbasis Asas PKOe yang bebas perangkap konversi keagamaan. Dari situ, Muhammadiyah diharapkan bisa memandu warga dan umat meniti jalan renaisans bagi kesejahteraan bangsa dan kemanusiaan global yang lebih saleh. (*)

(Penulis adalah Guru besar emeritus Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Loading...

You Might Also Like