Shunlie Thomas Alexander


SELAMAT Merayakan Imlek.” Selamat Hari Raya Imlek.” Selamat Imlek.” Begitulah ucapan-ucapan yang saya terima pada hari-hari ini di akun Facebook maupun melalui pesan WhatsApp.

Ucapan dengan bunyi-bunyi yang sama tersebut dengan mudahnya juga bisa kita temukan dalam bentuk spanduk yang terpasang di jalan-jalan, kartu-kartu (daring atau tercetak), maupun ucapan-ucapan secara langsung.

Bahkan, kerap pula kita temukan ungkapan ”Perayaan Imlek” ini di berbagai media. Baik dalam berita maupun sebagai iklan.

Mereka yang memahami arti kata ”Imlek” barangkali saja hanya akan tersenyum ketika mendengar, membaca, atau menerima berbagai ucapan tersebut. Meskipun, boleh jadi ada juga yang mencoba untuk meralat ucapan-ucapan itu.

Betapa tidak, ”Imlek” (”Yinli” dalam Mandarin atau ”Jim Lak” dalam Hakka) yang berasal dari bahasa Hokkian (Fujian) sesungguhnya berarti ”kalender bulan”, dalam hal ini adalah ”kalender lunar” yang dipergunakan oleh masyarakat Tionghoa (Huaren) yang masih memelihara tradisi-kebudayaan China di Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Makau, dan berbagai penjuru dunia. Ia disebut juga sebagai ”Nongli” yang berarti ”kalender agraria”.

Sebagai sistem penanggalan China kuno yang pada 2020 Masehi ini sudah mencapai angka 2571, Imlek sebenarnya sudah tidak lagi dipergunakan untuk keperluan administratif yang bersifat formal, selain untuk hal-hal yang menyangkut adat-tradisi atau keagamaan. Kendati sampai saat ini memang masih banyak keluarga Tionghoa yang merayakan hari ulang tahun berdasar Imlek. Sejak 1949, Tiongkok secara resmi telah mengadopsi kalender Masehi (Gregorian) untuk segala kebutuhan administratif. Adapun Taiwan, meskipun masih memakai perhitungan ”Tahun Republik China” dalam batas tertentu, kalender Masehi-lah yang mereka jadikan sebagai rujukan resmi.

Karena itu, ucapan ”Selamat Imlek” atau ungkapan ”Perayaan Imlek” yang bermakna ”Selamat Kalender Lunar” atau ”Perayaan Kalender Lunar” jelas merupakan sebuah kekeliruan. Yang bukan saja ”terdengar” janggal, tetapi juga lucu bagi mereka yang memahami maknanya.

Namun, toh kita tahu bahwa kekeliruan –entahlah itu dalam bunyi, arti, ataupun penulisan– tampaknya sudah merupakan sebuah kelaziman dalam kasus penyerapan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Bahkan, ia menjadi suatu hal yang kerap kali memang tak terhindarkan, mengingat akar bahasa dan logat antara dua masyarakat penutur yang jauh berbeda.

Dalam kasus penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, tentu saja kita bisa merujuk cukup banyak pergeseran bunyi dan penulisan maupun makna suatu kata serapan, baik yang berasal dari bahasa asing maupun yang berasal dari bahasa-bahasa daerah. Dan, untuk kasus serapan dari bahasa China (terutama dalam hal ini bahasa Hokkian), sebagai contoh kita bisa menunjuk kata ”becak” yang berasal dari kata ”becia”, ”bihun” dari ”mihun”, dan ”kongko” (nongkrong) yang berasal dari kata ”kongkow” (berbincang-bincang).

Sedangkan untuk kata ”Imlek”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat dua pengertian. Yaitu, (1) penanggalan China berdasar peredaran bulan; dan (2) tahun baru China yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama di awal tahun, berkaitan erat dengan pesta menyambut musim semi; Sin Cia.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, jika kita merujuk kepada pengertiannya dalam bahasa China (Hokkian), pengertian yang pertama tentunya sudah benar dan memang sesuai dengan makna aslinya. Tetapi, jelas telah terjadi pergeseran makna dalam pengertian kedua. Di sini tampaknya KBBI mencoba untuk menyesuaikan diri dengan kekeliruan pemahaman yang telanjur terjadi dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian, ucapan ”Selamat Kalender Lunar” pun akhirnya dapat diterima sebagai ”Selamat Tahun Baru Kalender Lunar”.

Tentu saja kita masih bisa menggunakan ucapan yang lebih tepat, yakni ”Selamat Tahun Baru Imlek”. Namun, dalam perkiraan saya, terjadinya pergeseran makna ”Imlek” sebagaimana yang dapat kita temukan dalam KBBI sekarang ini salah satunya justru lantaran terdapatnya kebiasaan dalam masyarakat Indonesia yang suka melakukan penyingkatan kata atau penghematan kalimat.

Lalu, benarkah ”Imlek” tidak pas disebut sebagai ”Tahun Baru China” karena yang merayakannya bukan hanya orang China, seperti kata Ariel Heryanto dalam unggahan status Facebook-nya pada 24 Januari 2020?

Betul bahwa ”Imlek itu tahun baru berdasarkan penanggalan lunar (bulan). Dalam bahasa Inggris disebut Lunar New Year” dan ”Tionghoa di Indonesia tidak semua berkiblat ke China dan tidak semua merayakan Imlek”. Tapi, Ariel Heryanto (dengan alasan tertentu yang agaknya lebih bersifat politis) seakan sengaja hendak menafikan bahwa ”Imlek”, baik sebagai kalender lunar maupun tahun baru, jelas-jelas berasal dari sejarah dan tradisi-kebudayaan panjang bangsa China (2.571 tahun).

Dalam kasus yang kita bahas ini, ia (Imlek) merupakan sebuah tradisi-budaya yang ikut bermigrasi ke segala penjuru bumi bersama para imigran dari negeri China. Dan, kemudian menetap (dan berakulturasi) di tanah-tanah rantau tempat anak cucu mereka beranak pinak. (***)

(Penulis Keturunan Tionghoa)

Loading...

You Might Also Like