Achmad Jhon Yonata ketika sedang melebur emas di ruang kerjanya. (AINUR ROFIQ/KALTENG POS)


Meski bekerja hanya mengandalkan pesanan, Ahmad John Yonata tak pernah merasa jenuh. Tetap menekuni pekerjaannya meski telah puluhan tahun. Menghasilkan karya dengan bermodal peralatan seadanya.

 

AINUR ROFIQ, Palangka Raya

 

LAMPU neon 20 watt menyala terang di atas kepala Ahmad John Yonata. Tangan kanan memegang alat pelebur, sementara tangan kirinya memegang jepitan. Sore itu, Oong – sapaan akrab Ahmad John Yonata- sedang mengolah emas batangan menjadi olahan emas siap jual. Di ruangan berukuran 3x5 meter itu, mata Oong lebih sering menatap emas yang diletakkan di atas batu bata untuk dilebur. 

Ruangan itu berada di bagian depan rumahnya yang terletak di sekitar Jalan Rajawali. Ada dua meja yang dipergunakan untuk menaruh peralatan tradisional untuk mengolah emas. Di meja lainnya, terlihat secangkir kopi hitam yang menjadi teman setianya dalam mencari ide dan inspirasi.

Kakek berusia 67 tahun itu sudah menjadi pengrajin emas sejak 1968 silam. Tepat setelah lulus sekolah menengah atas (SMA). Ilmu itu didapatnya dari orang tua.

Pada usianya yang sudah uzur, pria kelahiran Kuala Kapuas ini tetap semangat menekuni pekerjaannya. Bukan karena upah yang didapatnya terbilang cukup lumayan, tapi memang ia sangat mencintai seni dalam membuat kerajinan berbahan baku emas. Kalung, gelang, dan cincin merupakan buah karyanya.

Usai memang tak bisa dibohongi. Ketika masa mudanya, ia mampu membuat 30 cincin polos dalam sehari. Sedangkan untuk kalung, dalam sehari bisa menghasilkan dua.

“Kalau sekarang, untuk membuat gelang saja saya butuh waktu tiga hari,” ujarnya kepada Kalteng pos.

Menurut Oong, sehari-hari ia mengandalkan pesanan dari pemilik toko emas di Pasar Besar, Kota Palangka Raya. Kebetulan, ketika penulis menemaninya membuat olahan emas, ia mendapat pesanan untuk membuat sebuah cincin, kalung, serta gelang dari emas murni 99 seberat 100 gram. Pemesan biasanya menyerahkan batangan emas murni 99.

Dalam membuat kerajinan, kakek yang sudah punya empat cucu itu masih menggunakan peralatan tradisional. Digerakkan secara manual. Meski dengan peralatan jauh dari kata modern, Oong bukan hanya bisa menghasilkan karya perhiasan emas polos. Kakek berkaca mata itu juga bisa membuat motif ukir dan abjad, motif-motif kekinian, serta mengkuti selera pelanggan.

“Dalam pengerjaan, saya tetap memadukan seni dan selera pelanggan,” ungkapnya.

Upah yang didapat relatif. Tergantung dari hitungan berat emas. “Satu gram emas dihargai Rp10 ribu," sebutnya seraya menyeruput kopi.

 

Pria kelahiran 1952 itu pun memperlihatkan proses pembuatan. Ada perkakas sederhana yang sudah ia modifikasi. Sisanya menggunakan peralatan modern seperti alat pres, kikir, dan sikat emas. Tak ada oven  atau alat pencetak. Hanya ada pelat besi untuk membuat dan mengukur ketebalan. Emas itu dileburkan dengan api dari las, serta dibantu dengan pompa yang diinjak-injak agar bisa menghasilkan api yang lebih besar. Dengan cara demikian, proses peleburan emas bisa menjadi lebih cepat.

Pompa yang dimaksud adalah kempusan, sebuah pompa yang dihubungkan dengan slang untuk mengeluarkan angin. Sistem kerjanya seperti pedal gas. Semakin cepat diinjak, maka semakin banyak angin yang mendorong bensin keluar dari tangki, lalu menyemburkan api dari las.

Setelah melebur, cairan panas itu dituangkan ke pipa kecil yang setengah bagiannya terbuka. Lalu dimasukkan ke air. Emas pun tercetak panjang. Selanjutnya digiling hingga menjadi lempengan pipih dan panjang. Proses tersebut dilakukan berulang-ulang hingga berbentuk seperti kawat tebal.

Para pengrajin emas atau kawat menggunakan sebuah pelat besi dengan 39 lubang berbeda-beda ukuran. Mulai dari 0,26 mm hingga 2,8 mm. Alat inilah yang digunakan untuk meratakan ketebalan kawat emas.

Setelah kawat emas menjadi sama tebal, salah satu ujung kawat diletakkan ke alat penjepit bor yang ujungnya terdapat roda gigi. Otomatis ketika diputar, kawat emas itu akan melilit spiral. Selanjutnya, kawat yang berbentuk per (pegas) itu dipotong untuk menghasilkan lingkaran.

"Satu demi satu kepingan itu digabung menggunakan penjepit, membentuk rantai panjang. Pada tahap ini, ketelitian dan kerapian sangat diperlukan. Jika telah selesai dipatri dengan bubuk emas, selanjutnya dipanaskan kembali supaya menyatu. Agar terlihat rapi, dikikir kembali kalung emasnya. Cukup mudah kan membuat rantai emas,” ucapnya sembari tertawa kecil..

Soal durasi waktu pembuatan, menurut Oong, sangat tergantung pada tingkat kerumitan motif. Misalnya, cincin yang relatif kecil, tentu saja berbeda dengan kalung corak rantai. Cincin yang sederhana desainnya akan lebih cepat proses pembuatannya dibandingkan membuat kalung yang bisa memakan waktu berhari-hari. (ce/ram)

123

Editor :
Reporter :