Ilustrasi makanan kaya akan serat yang baik bagi penderita diabetes. (iStockphoto)


Makan makanan kaya serat selalu dikaitkan dengan manfaatnya untuk kesehatan. Salah satunya bisa menyehatkan organ usus. Bahkan dua penelitian terbaru dari para peneliti Universitas Otago membuktikan konsumsi lebih banyak makanan kaya serat dapat meningkatkan harapan hidup pasien diabetes.

Dilansir dari NDTV, Rabu (27/5), studi juga menyatakan bahwa makanan yang diproses dapat menghilangkan manfaat seratnya. Studi-studi ini menjadi kabar baik bagi pasien diabetes yang bisa mengalami komplikasi.

Studi pertama, yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine, menemukan bahwa asupan serat yang tinggi secara signifikan mengurangi angka kematian dini dibandingkan dengan mereka yang makan lebih sedikit serat. Studi ini menggunakan data yang dikumpulkan dari 8.300 orang dewasa dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2.

Oleh karena itu, penulis utama studi ini, Dr Andrew Reynolds, Anggota National Heart Foundation dari Departemen Kedokteran, menyarankan orang-orang di seluruh dunia untuk meningkatkan konsumsi biji-bijian, kacang polong-polongan, sayuran, dan buah utuh dalam makanan sehari-hari mereka. Cobalah beberapa cara berbeda untuk meningkatkan asupan serat Anda.

“Jika Anda makan roti atau roti putih, coba ganti dengan gandum. Cobalah nasi merah, lalu coba tambahkan setengah porsi kacang-kacangan,” kata Dr Reynolds.

“Untuk biji-bijian ketika Anda menggilingnya dengan halus, maka dapat menghilangkan manfaatnya,” ungkapnya.

Studi kedua, yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care, menyatakan bahwa tidak semua makanan kaya serat diciptakan sama. Ditemukan bahwa meskipun biji-bijian merupakan sumber serat yang penting, jika diproses secara berlebihan maka manfaatnya akan hilang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kadar glukosa darah peserta setelah konsumsi biji-bijian utuh yang diproses secara minimal.

“Makanan gandum sekarang banyak dianggap bermanfaat, tetapi semakin banyak produk gandum yang terlalu panjang proses pengolahannya terutama di rak-rak supermarket,” tutup penulis senior studi ini, Prof Jim Mann, dari Departemen Kedokteran dan Direktur Healthier Lives National Science Challenge.


1 2

Editor :Nurul Adriyana Salbiah
Reporter : Marieska Harya Virdhani

You Might Also Like