Ilustrasi. (foto: net)


PADA hakikatnya manusia di dunia ini diciptakan saling berpasang-pasangan, pada prosesnya cepat atau lambat seseorang pasti akan melewati fase pernikahan. Fase pernikahan ini merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap insan manusia, namun sebelum pernikahan dilangsungkan seseorang harus memenuhi berbagai kriteria atau syarat agar dapat terciptanya pernikahan yang ideal, sebab pernikahan tidak hanya berlangsung selama sehari dua hari tetapi berlangsung selamanya.

Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan kedua belah pihak atau salah satu pihak masih berada dibawah minimal usia yang ditetapkan di dalam Undang-Undang Perkawinan atau biasa disebut masih remaja. Adapun usia minimal yang ditetapkan dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 adalah pria dan wanita harus berumur 19 tahun, aturan ini telah disahkan pada 16 September 2019 lalu pada saat rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Meskipun pernikahan hanya berlangsung satu kali dalam seumur hidup, dalam praktiknya masih bnyak remaja yang menikah tanpa persiapan yang matang. Dahulu kala, memang pernikahan harus diberlangsungkan secepatnya karena sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat untuk menghindari gunjingan yang mengatakan perawan tua apabila menikah pada usia dewasa. Maka dari itu pernikahan dini banyak terjadi karena paksaan dari orang tua. Ekonomi sering menjadi alasan orang tua menikahkan anaknya di usia yang masih terbilang belia dan mengesampingkan pendidikan yang bertujuan untuk mengurangi beban yang ditanggung oleh orang tua, dan mengakibatkan semakin rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.

Namun seiring dengan berkembangnya zaman pernikahan dini bukanlah sebuah tradisi lagi. Pada zaman sekarang, pernikahan dini merupakan suatu hal yang sering terjadi, bukan karena paksaan orang tua seperti dulu, namun diakibatkan dari pergaulan di era globalisasi yang semakin tidak sehat atau semakin bebas.

Pada Pasal 7 ayat (3) UU Nomor 16 Tahun 2019 menjelaskan bahwa apabila  kedua mempelai masih berada di bawah usia yang ditetapkan, maka orang tua mempelai dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan Agama maupun Pengadilan Negeri dengan cara memberikan alasan yang kuat dan disertakan dengan bukti pendukung yang cukup. Mayoritas remaja yang melakukan pernikahan dini cenderung alasannya berkaitan dengan perkara hamil di luar nikah, mereka menganggap solusi satu-satunya untuk menutupi “aib” tersebut yaitu dengan cara melakukan pernikahan. Meskipun hal itu sebenarnya tidak memberikan solusi apapun.

Pada tahun 2018 lalu, Mahkamah Agung setidaknya mencatat ada sekitar 193 ribu kasus pernikahan dini yang terjadi di Indonesia, dan yang mengejutkan hanya 14 ribu yang mengajukan dispensasi ke pengadilan. Sisanya hanya melakukan pernikahan siri yang tentunya tidak memiliki catatan resmi dalam catatan sipil sehingga tidak memiliki akta nikah. Pernikahan siri memang sah dalam pandangan agama, namun tidak memiliki kekuatan hukum karena pernikahan tersebut tidak diakui oleh negara.

Tidak adanya akta nikah guna menunjukan legalitas suatu pernikahan memiliki resiko yang rumit di kemudian hari, salah satunya masalah pada status anak disamakan seperti anak di luar nikah, yang hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya dan tidak memiliki akta kelahiran berakibat pada anak tidak dapat mewarisi harta dari ayahnya.

Banyak hal yang menjadi alasan dilakukannya pernikahan dini di masyarakat. Sebagian besar alasan dari pelaksanaan pernikahan dini adalah untuk mengatasi masalah ekonomi dan kehamilan di luar nikah. Kurangnya pemahaman tentang norma-norma agama dan rendahnya pendidikan yang menyebabkan perilaku menyimpang di kalangan remaja. Perkembangan teknologi dan informasi juga memberikan pengaruh karena dengan mudahnya mengakses video maupun situs yang memuat konten-konten dewasa. Budaya juga turut menyumbang semakin maraknya pernikahan dini terjadi, misalnya perjodohan yang dilakukan oleh orang tua.

Pernikahan dini sangat tidak disarankan karena memiliki dampak yang cukup besar antara lain seperti pada kesehatan, hubungan seksual yang dilakukan oleh remaja di bawah usia 19 tahun sangat rentan terkena penyakit atau infeksi menular seksual salah satunya seperti infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Selain itu secara biologis alat reproduksi wanita yang masih di bawah umur masih belum siap untuk melakukan hubungan seksual dan belum matang untuk melahirkan, sehingga ketika kehamilan terjadi, besar kemungkinan hal itu akan membahayakan nyawa ibu dan janinnya. Bahkan setelah melahirkan, besar kemungkinan ibu muda tersebut akan terkena kanker payudara atau kanker serviks yang dapat berujung pada kematian.

Secara psikologis remaja yang melakukan pernikahan dini cenderung mengalami depresi dikarenakan banyaknya tekanan dan kurangnya kesiapan mental dalam menjalani kehidupan berumah tangga dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Apabila anak tidak bisa mengontrol emosinya maka tidak jarang terjadi perselingkuhan yang bahkan kekerasan dalam rumah tangga sehingga berujung pada perceraian. Bahkan tidak sedikit menimbulkan kematian, seperti yang terjadi di Indramayu, Jawa Barat. Seorang remaja berinisial Y berumur 15 tahun tewas di aniaya oleh suami beinisial D pada tahun 2018 lalu.

Begitu juga dengan mempelai lelaki yang masih belum siap untuk menafkahi serta bertanggung jawab terhadap keluarga kecilnya, karena kebanyakan remaja yang menikah di bawah umur itu cenderung putus sekolah maka akan menambah jumlah kemiskinan yang ada di Indonesia. Tentu pernikahan dini merampas masa-masa remaja yang seharusnya dihabiskan bersama teman sebayanya dan berjuang untuk meraih cita-citanya agar kehidupan finalsial yang lebih baik.

Terlepas dari dampak negatif, pernikahan dini juga memiliki dampak yang positif, dalam pandangan agama pernikahan dini tidak apa dilakukan guna menghindari perzinahan mengingat tidak terkontrolnya perilaku generasi melinial sekarang. Remaja yang melakukan pernikahan dini akan dipaksa belajar arti tanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun keluarga kecilnya.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah semakin maraknya pernikahan dini terjadi ialah dengan cara melakukan bimbingan maupun sosialisasi terhadap generasi milenial tentang pendidikan seks (Sex Education) yang berisikan tentang kesehatan reproduksi agar anak memahami apa fungsi dari alat reproduksinya, bagaimana cara merawatnya, hingga mengajarkan batasan-batasan norma yang sudah di atur dalam agama agar anak tidak terjerumus dalam penyimpangan seksual maupun sosial serta menghindari pelecehan seksual yang mengacam anak. Namun sangat disayangkan masyarakat menganggap seks masih sebagai hal yang tabu dan vulgar yang akan mendorong anak melakukannya karena penasaran.

Orang tua sangat berperan penting dalam pencegahan pernikahan dini, orang tua harus lebih sering meluangkan waktu untuk anak dan berbagi cerita. Maka anak akan merasa nyaman di rumah. Selain itu orang tua juga harus memberitahu  anaknya apa resiko yang akan menimpanya apabila dia melakukan penyimpangan sosial. Pendidikan formal dan pemahaman agama juga tidak kalah penting dalam mengatur pergaulan anak, karena anak membutuhkan arahan agar dapat menjalani hidup yang berkualitas.

Dilihat dari dampak yang disebabkan oleh pernikahan dini lebih dominan dampak negatif daripada dampak positifnya. Pernikahan dini bukanlah sebuah solusi dalam suatu masalah, tidak sedikit pernikahan dini malah menimbulkan masalah-masalah baru. Pernikahan bukanlah hal sederhana, sebaiknya sebelum melakukan pernikahan akan lebih baik jika menyiapkan mental, kedewasaan diri sangat diperlukan untuk melangsungkan kehidupan yang berkualitas. Selain itu pendidikan juga sangat diperlukan agar apabila menikah sudah memiliki kehidupan finansial yang mencukupi, pendidikan juga akan mengurangi jumlah penggangguran yang ada di Indonesia dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia***

(Penulis Merupakan Mahasiswa Semester II Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah, IAIN Palangka Raya)

1 2

Editor : Jony
Reporter :

You Might Also Like