Cahaya A Napitupulu M Psi Psikolog


DALAM kehidupan ini, tidak ada anak yang terlahir dengan gen sukses, gen bahagia, atau gen “anak luar biasa”. Tentu saja tantangan dan kesulitan selama proses kehidupan tidak dapat dihindari, namun kita dapat membantu anak membangun ketahanan diri mereka. Smith, dkk (2008) menjelaskan bahwa resiliensi atau ketahanan diri dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bangkit kembali dan pulih dari peristiwa menekan. Dengan kata lain, resiliensi meliputi kemampuan menyesuaikan diri saat berada dalam kesulitan.


Pada masa pandemi ini, perubahan dan penyesuaian terjadi sangat cepat. Diberlakukannya pembelajaran jarak jauh dengan segala perubahan sistem belajar mengajar serta himbauan untuk di rumah saja dapat memicu rasa tertekan pada anak. Kesulitan yang dihadapi anak selama pandemi atau hambatan lain yang mereka temui dalam hidup mungkin tampak kecil di mata orang dewasa, tetapi bisa terasa besar dan sangat melelahkan bagi anak-anak. Ketahanan dapat menolong anak-anak mengatasi situasi tertekan. Ketika anak-anak memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk menghadapi dan mengatasi masalah mereka, mereka belajar bahwa mereka memiliki semua yang diperlukan untuk mampu menghadapi masalah yang sulit. Jika mereka bangkit dan mampu melalui hambatan, maka akan tertanam pesan bahwa mereka kuat dan mampu. 


Mengenalkan anak-anak pada keterampilan yang dapat membantu mereka untuk memiliki ketahanan saat menemui tantangan dan kesulitan merupakan tanggung jawab para orang tua atau orang dewasa di sekitar anak. Dengan ketahanan ini, niscaya kesulitan yang ditemui selama perjalanan hidup tidak akan menghancurkan mereka. Di saat hidup terasa keliru, ketahanan dapat membantu kita melewati masa-masa sulit sehingga kita merasa lebih kuat dari sebelumnya. Anak-anak tangguh cenderung berani mengambil risiko yang sehat. Mereka tidak takut gagal memenuhi harapan karena mereka memiliki keberanian dan mengetahui batasan mereka sehingga mereka akan mendorong diri mereka sendiri keluar dari zona nyaman mereka. Hal ini dapat membantu mereka mencapai tujuan jangka panjang dan memecahkan masalah secara mandiri.


Berikut ada beberapa hal yang perlu diketahui orang tua untuk bisa memiliki mental Tangguh: 

Bangun hubungan emosional yang kuat antara orang tua atau orang dewasa dengan anak. Dalam konteks hubungan dengan anak, kehadiran orang dewasa yang peduli dan responsif dapat menolong anak utnuk dapat terlindungi dari efek merusak perubahan fisiologis. Siapa pun dalam kehidupan seorang anak dapat membuat perbedaan baik orang tua, keluarga, guru, pelatih dan siapa saja orang dewasa di sekitar anak. 


Beberapa penelitian menjelaskan bahwa seseorang yang menerima arahan dan dukungan langsung dari orang tua, orang dewasa, lingkungan atau komunitas akan lebih optimis dan percaya bahwa dirinya mampu melewati kesulitan yang dihadapinya (Everall, Allrows dan Paulson, 2006). Itulah sebabnya, orang tua dan orang dewasa di sekitar anak merupakan pribadi yang dianggap paling kompeten dalam mengenalkan resiliensi.


Menurut Connor dan Davidson (2003) dalam Yu dan Zhang (2007) ada tiga aspek ketahanan yaitu kegigihan, kekuatan dan optimisme. Ketiga aspek ini dapat diajarkan dan diteladani oleh para orang tua dan orang dewasa kepada anak-anak. Kegigihan menggambarkan ketekunan dan kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi situasi yang sulit.


Alih-alih mengucapkan kata-kata frustasi tanpa empati seperti: “Mama juga bosan di rumah terus, ngapain kek cari kegiatan”. Mungkin akan terdengar lebih nyaman jika ucapkan dengan empati, misalnya: “Mama merasakan juga hal yang sama seperti yang kamu rasakan, mama paham kamu merasa jengkel, tapi adakah satu hal yang bisa kita temukan untuk membuat kita merasa senang hari ini?, mari kita cari tahu dan temukan bersama” atau “yuk kita tulis hal yang dapat membuat kebosanan kita berkurang dan melakukan salah satunya”, serta banyak contoh lainnya. Ajak anak melakukan sesuatu yang menyenangkan, melihat sisi lain dan menemukan hal lainnya yang juga menenangkan, sehingga mereka mampu terampil mengelola emosi negatif yang timbul dari situasi yang menekan. Saat bercakap-cakap pada anak dengan empati, kita juga menunjukkan pada anak kemampuan kita sebagai orang dewasa saat mengendalikan diri dalam situasi yang menekan. Hal ini bertujuan agar anak-anak belajar mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengendalikan situasi namun mereka dapat mengontrol dirinya sendiri meski sedang mengalami situasi yang tidak menyenangkan. 


Aspek kedua yaitu kekuatan yang menggambarkan kapasitas individu untuk menjadi kuat kembali dan lebih kuat lagi setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan. Kita bisa katakan beberapa contoh kalimat berikut kepada anak: 

“Hal yang kamu alami/ kondisi saat ini sungguh berat, mama/papa tidak bisa membayangkan jika menjadi kamu, tapi jika kamu mampu melalui peristiwa ini, lihat hal baik yang menunggumu nanti” 

“Mama/papa pernah melihat kamu berhasil melewati ini sebelumnya, kamu hebat, kamu kuat”. 

“Mama/papa tahu kamu mampu mengatasi ini, mama tidak sabar melihat kamu melakukan hal hebat itu lagi” Aspek ketiga meliputi optimisme. 


Ajak anak-anak kita untuk melihat sisi positif dari setiap masalah dan memiliki kepercayaan diri dalam melawan situasi yang sulit. Contoh kalimat berikut dapat diucapkan orang tua untuk membangun optimisme: 

“Hal yang kamu alami sungguh berat, tapi lihat! Sekarang dirimu menjdi lebih berani/ lebih sehat/ lebih percaya diri” 

“Ternyata melalui peristiwa ini, kamu jadi tahu bahwa kamu bisa/ kamu mampu/ kamu kuat”. “Semenjak belajar online di rumah, ternyata kamu menjadi lebih kreatif ya”. “Wah, selama pandemi terjadi, tampaknya kamu lebih peduli pada sesama ya”dan lain-lain.


Saat melalukan percakapan ini, berilah pujian atas perilaku atau perkembangan positif anak. Semua aspek tersebut dapat terbangun jika terjalin hubungan yang kuat antara orang tua dan anak. Melalui hubungan yang hangat ini, orang tua dapat mengenalkan pengalaman baru langsung kepada anak, dan mengajak anak untuk menikmati prosesnya. 


Berlatih Bersyukur Orang tua perlu mengajak anak mensyukuri banyak hal terutama dalam situasi penuh tekanan. Alih-alih mengganggu putra putri kita dengan pertanyaan seperti, "Bagaimana sekolah online mu tadi?" atau, "Apa saja yang kamu lakukan hari ini?", ajaklah mereka untuk mengubah hari mereka. 

Orang tua dapat melakukan percakapan santai melalui permainan, atau melalui tanya jawab seperti: 

Apa yang dilakukan orang lain hari ini kepadamu sehingga kamu merasa Bahagia/ senang? 

Apa yang kamu sudah lakukan untuk membuat orang lain bahagia? 

Apa yang bisa kamu pelajari hari ini? 

Latihan sederhana ini dapat membantu kita semua menemukan hal positif setiap hari, mengajarkan rasa syukur, memelihara optimisme, dan mengajarkan kebaikan (Wood, 2007). 


Mengenalkan aspek resiliensi dalam hidup sehari-hari. Kegiatan bersyukur juga berkaitan dengan kesadaran bahwa anak memiliki dukungan di sekitarnya (I have), kekuatan diri (I am) dan kemampuan interpersonal (I can). 

Kita semua membutuhkan bantuan, dan penting bagi anak untuk mengetahui bahwa mereka memiliki bantuan atau dukungan (I Have). 


Anak-anak sering kali memiliki gagasan bahwa menjadi berani adalah tentang menghadapi berbagai masalah sendiri. Beri tahu mereka bahwa menjadi berani dan kuat artinya mengetahui kapan harus meminta dan mencari pertolongan di sekitarnya. Beritahu mereka bahwa tidak masalah meminta bantuan. 


Mendemonstrasikan keterampilan koping (cara mengatasi stres) 

Latihan pernapasan dapat membantu anak tenang, atau lakukan berbagai kegiatan kreatif terkait koping untuk anak seperti permainan menulis kegiatan yang menyenangkan, membuat sudut tenang (calm corner toolbox), bermain mengenal perasaan, bercerita (story telling) dan sebagainya. 

Rangkul lah kesalahan 

Merangkul kesalahan (termasuk kesalahan kita sendiri) membantu memberi pesan pada anak bahwa kesalahan membantu mereka belajar. Bicarakan lah kesalahan yang pernah kita lakukan dan bagaimana cara kita dapat melalui dan memulihkannya. 

Temukan sisi baik dari semua hal 

Ajarkan anak-anak untuk mengubah pemikirannya dalam rangka menemukan hal positif. Misalnya saat anak tidak mendapatkan mainan yang ia inginkan, kita dapat mengatakan pada anak, misalnya: 

“Karena kita tidak jadi membeli mainan di toko itu, kamu bisa menabung untuk membeli sesuatu yang lebih bagus bulan depan” dan contoh lainnya. 

Jangan terburu-buru menjadi penyelamat bagi anak. 


Beri ruang pada proses berharga antara terjatuh dan berdiri, karena disitu anak belajar bagaimana menemukan kaki mereka untuk berdiri kembali. Tentu saja, kita harus membantu mereka menemukan kekuatan untuk bergerak maju, tapi selalu beri ruang bagi anak untuk belajar dari pengalamannya, jangan terburu-buru mengambil alih porsinya setiap saat. 


Pastikan anak memiliki pola pikir berkembang. Kita bisa berubah, begitu pula orang lain. Beritahu anak bahwa manusia adalah makhluk dinamis, beri ruang untuk segala kekurangan, kesalahan dan permakluman. Penelitian menemukan bahwa anak dengan pola pikir berkembang memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah. Anak-anak ini cenderung menunjukkan ketahanan saat keadaan menjadi sulit. Dibandingkan dengan anak-anak yang percaya bahwa perundung akan selalu menjadi perundung dan korban akan selalu menjadi korban, anak-anak yang percaya bahwa orang dapat berubah melaporkan lebih sedikit kecemasan dan stres, perasaan yang lebih baik tentang diri mereka sendiri, dan kesehatan fisik yang lebih baik. 


Perbesar kapasitas untuk terus belajar menjadi orang tua/orang dewasa yang resilien.  Resiliensi/Ketahanan bukan tentang tidak pernah terjatuh. Ini tentang bangkit kembali, dan tidak perlu terburu-buru untuk mewujudkannya. Kita semua pernah mengalami rasa sakit emosional, kemunduran, dan kesedihan. Kita perlu belajar dan meneladani bahwa anak-anak juga perlu belajar untuk menghargai perasaan yang baik bahkan perasaan yang buruk, tetapi tidak sampai membiarkan perasaan itu mengendalikan perilaku mereka. 

Di masa pandemi saat ini, yuk ayah bunda, kita belajar lebih dulu menjadi orang dewasa yang resilien. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa anak-anak tidak belajar hanya dari apa yang di dengar dari orang tua nya saja, tapi anak-anak belajar dari melihat orang tuanya. Tentu saja, orang tua juga harus mau belajar banyak hal dari anak-anak termasuk dalam mengatasi banyak permasalahan hidup. Anak yang tangguh berawal dari orang tua yang tangguh pula. Salam sehat. (*)



*Penulis adalah psikolog dan dosen Universitas Palangka Raya 

Editor :pri
Reporter :