ILUSTRASI. tren konsumsi selama pandemi berubah, termasuk di sektor fashion. Konsumen lebih meminta dan memilih fashion yang ramah lingkungan. (Istimewa)


Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat industri fashion untuk tetap bertahan dan berinovasi. Dalam momen Cotton Day 2020 para pelaku industri fashion khususnya garmen, membuktikan mereka masih bisa berinovasi. Apalagi tren konsumsi selama pandemi berubah, termasuk di sektor fashion. Konsumen harus menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran dengan lebih efisien.

Kemudian konsumen juga mulai menyadari, era pandemi membuktikan bahwa bumi harus lebih mendapat ruang untuk lebih dirawat bersama. Maka perilaku konsumsi juga berubah termasuk di bidang fashion.

Data survey global US Cotton Trust Protocol terkini, 54 persen pemimpin perusahaan brand garmen dan tekstil mengatakan, tuntutan konsumennya akan praktik dan produk yang ramah lingkungan meningkat sejak awal pandemi Covid-19. Berdasarkan data yang sama, 59 persen responden percaya bahwa konsumen akan tetap memprioritaskan harga saat melakukan pembelanjaan.

“Dengan data tersebut, untuk memperkuat optimisme industri tekstil paska pandemi, tentu para pelaku industri tekstil perlu melakukan transformasi industri dengan mengadaptasi tuntutan konsumen terkait produk tekstil yang lebih ramah lingkungan. Hal ini bertujuan untuk terus bisa terus tumbuh, bahkan dapat meningkatkan ekspansi bisnis di level yang lebih luas,” kata Chairman Cotton Council International Hank Reichle, dalam acara Cotton Day 2020 secara daring, Kamis (24/9).

Hank Reichle menyampaikan bahwa terdapat optimisme di kalangan pelaku industri garmen global selama pandemi. Optimisme tersebut didasari oleh adanya perubahan perilaku konsumen terkait permintaan produk garmen yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Reichle menambahkan bahwa saat ini, berbagai perusahaan di seluruh dunia mencari cara untuk meneruskan program keberlanjutan mereka selama pandemi. Lebih dari 62 persen responden survei yang disampaikan para pemimpin perusahaan garmen global menyampaikan bahwa program keberlanjutan (sustainable fashion) menjadi fokus utama saat ini.

“Selain itu, 59 persen responden juga menyampaikan bahwa mereka melakukan transparansi dalam produksi produk yang ramah lingkungan,” kata Reichle.

Cotton Council International melalui Cotton USA membuktikannya dengan mempertemukan para pelaku industri tekstil dan fashion di Indonesia (23 /9). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, agenda Cotton Day 2020 Indonesia kali ini menggunakan konsep virtual yang tidak hanya melibatkan pelaku industri di skala nasional melainkan juga hingga skala global.

Representatif CCI di Indonesia Andy Do menjekaskan semua industri dan perusahaan di era transformasi, termasuk pandemi Covid-19 harus berani berinovasi. Situasi ini tak menyurutkan pelaku industri tekstil di Indonesia untuk bisa memperluas jaringan pasar mereka ke pelaku industri global secara langsung.

“Bagaimana industri tekstil di Indonesia dapat terus tumbuh walau dalam kondisi yang sulit seperti saat ini,” katanya.

Para industri bahan baku fashion seperti kapas juga mulai menyadari dampak lingkungan dalam produksi kapas. Pandemi membuat para pelaku industri semakin berkomitmen untuk lebih efisien dalam penggunaan lahan. Pelaku industri mengenalkan produk dan inovasi baru yang dibuat oleh pelaku industri tekstil di Indonesia kepada dunia. Tentunya bahan yang ditampilkan dalam fashion show merupakan produk ramah lingkungan atau sustainable fashion.

12

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc