Virus Korona (Nexu Science Communication)


Virus Korona bisa menyerang setiap orang dengan gejala yang berbeda. Bahkan menginfeksi tanpa adanya gejala. Karakter virus yang licik seperti itu, membuat seseorang tak sadar sudah terinfeksi lalu menulari orang lain.

Semestinya setiap orang memiliki alarm jika merasa tak enak badan atau tak sehat pada tubuhnya. Namun, virus Korona bisa membuat inangnya merasa kebal terhadap rasa sakit.

Lalu pada saat menyadari bahwa Anda terinfeksi, semuanya sudah terlambat. Seseorang terinfeksi tapi tak merasakan gejala, tak sadar telah menyebarkan virusnya jauh dan luas.

Dilansir dari Science Times, Jumat (25/9), penelitian di Universitas Arizona AS menunjukkan mengapa orang yang terinfeksi SARS-CoV-2, mungkin menyebarkan penyakit tanpa menyadarinya. Virus menyerang sel melalui protein ACE2 pada permukaan banyak sel. Tetapi penelitian terbaru, menunjukkan ada rute lain untuk menginfeksi sel yang memungkinkannya menginfeksi sistem saraf. Penelitian itu sekarang telah ditinjau oleh sejawat dan akan dipublikasikan di jurnal PAIN.

Ilmuwan mempelajari bagaimana protein pada sel memicu sinyal rasa sakit yang dikirimkan melalui tubuh ke otak. Saat protein ini aktif, sel-sel saraf berbicara satu sama lain. Percakapan ini terjadi pada tingkat yang memekakkan telinga pada nyeri kronis. Lalu apa kaitannya SARS-CoV-2 dan nyeri?

Dua laporan awal yang muncul di server pracetak BioRxiv menunjukkan bahwa protein di permukaan virus SARS-CoV-2 terikat pada protein yang disebut neuropilin-1. Artinya, virus juga dapat menggunakan protein ini untuk menyerang sel saraf serta melalui protein ACE2.

Neuropilin-1, seperti reseptor ACE2, memungkinkan lonjakan masuk ke dalam sel, lalu dapat dikaitkan dengan nyeri. Namun, ketika neuropilin-1 berikatan dengan protein alami yang disebut faktor pertumbuhan endotel Vaskular A (VEGF-A), ini memicu sinyal nyeri. Sinyal ini ditransmisikan melalui sumsum tulang belakang ke pusat otak yang lebih tinggi untuk menimbulkan sensasi yang kita semua kenal sebagai nyeri.

Dalam keadaan normal, protein neuropilin-1 mengontrol pertumbuhan pembuluh darah, serta pertumbuhan dan kelangsungan hidup neuron. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara VEGF-A dan nyeri.

Dalam penelitian in vitro dengab menggunakan sel saraf, menunjukkan bahwa ketika lonjakan mengikat neuropilin-1, hal itu mengurangi sinyal rasa sakit. Pada penelitian hewan hidup hal itu juga akan memiliki efek menghilangkan rasa sakit.

Ketika lonjakan protein berikatan dengan protein neuropilin-1, protein VEGF-A menghalangi pengikatan dan dengan demikian membajak sirkuit nyeri sel. Pengikatan ini menekan rangsangan neuron nyeri, yang menyebabkan sensitivitas yang lebih rendah terhadap nyeri.

Sebuah molekul kecil, yang disebut EG00229, menargetkan neuropilin-1 telah dilaporkan dalam studi tahun 2018. Molekul ini berikatan dengan daerah yang sama dari protein neuropilin-1 dengan protein lonjakan virus dan VEGF-A. Kemungkinan molekul ini dapat memblokir rasa sakit. Itu terjadi, selama simulasi nyeri pada tikus.

Virus licik ini, membodohi orang agar percaya bahwa mereka tidak tertular Covid-19. Tapi, ironisnya, itu mungkin memberi kita pengetahuan tentang protein baru sebagai sinyal merasakan rasa sakit. Itulah mengapa, banyak OTG tak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi sebab virus Korona bisa memblokir rasa nyeri pada tubuh seseorang.

12

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc